Repost Blognya Taufan E. Prast soal Istri!!

“Artinya, menjadi istri saya harus paham kondisi. Ia harus hidup dalam realitas, bukan di ruang persepsi. Orang mau ngomong apa tentang kita silakan, toh kita yang menjalani…”

Sulitnya Jadi Istri – http://wp.me/pNwOM-JU

Izinkan aku~

Terakhir Juni. Ya, Juni 2016, itu sudah dua bulan yang lalu. Saat aku terakhir kali memukul-mukul tuts keyboard laptopku untuk menuliskan serangkaian kalimat yang kadang hanya aku sendiri yang memahami maksud di baliknya.

Sudah terlampau banyak hal aku lewati di antara masa-masa itu. Terlalu banyak hal berkelindan.. berseliweran.. dan membuat dada sesak akan gemuruh rasa yang berkecamuk tiada tara. Tak ada yang memahaminya. Hanya aku.

Maka kali ini.. izinkan aku sedikit saja berceloteh mesra dengan tuts-tuts keyboard laptopku lagi. Aku ingin sedikit menyapanya dengan panggilan sayangku padanya. Rasa rindu akan zonaku yang entah sejak kapan ia menghilang dan lenyap begitu saja. Oleh perasaan yang mampir tak diundang. Sampai detik ini.. sampai jeda ini.. ia masih enggan beranjak pergi.

Aku menamainya rindu. Rindu pada masa lalu. Mungkin inilah yang kusebut sesal. Ketika pada akhirnya aku harus melalui serangkaian peristiwa menyesakkan itu lagi dan lagi. Yang kusuruh enyah dari memori tapi malah makin melekat erat dan kuat. Sejujurnya aku pun benci, tapi ia seakan tak peduli. Ia terus dan terus membuatku merasa aku harus memperhatikannya, dan meski sedetikpun aku tak boleh memalingkan mukaku darinya.

Dan kali ini, agustus menjelang 24.. saat dimana semua menjadi seakan makin rumit. Aku makin tak yakin dengan ujung dari semua resah dan gundah ini. Ingin rasanya berteriak lantang aku akhiri, aku sudahi, aku enyahkan, tapi.. gagal. Sudah berkali-kali mencoba tapi gagal. Gagal. Dan gagal. Bodoh memang.. tapi itulah aku, kalau bukan mencoba kegagalan keseribulimaratuslimapuluhsatu bukan aku namanya. Pecinta kegagalan. Bodohnya.

Dan kini.. aku sendiri tak pernah tahu akan kubawa kemana semua rasa ini. Ia berayun syahdu sesekali, namun terkadang menjadi ganas dan memaksaku mencari perlindungan yang entah kemana. Aku berlindung dari rasa yang kubangun sendiri? tidakkah nampak bodoh? Hahaha. Manusia macam apa aku ini?

Ah, sudahlah.. sampai kapanpun aku tak pernah berhenti menyalahkan diriku sendiri? Toh semua bermula dari aku? Siapa lagi? Maka kita lihat saja sampai sejauh apa aku akan menyelesaikan semua ini.

Esok

Ada apa dengan esok?
Apa bedanya dengan lusa atau bahkan saat ini?
Iya. Aku tahu. Kau bilang ini soal waktu.
Aku tak sedang membahas ini. Tentunya tak mengharapkan jawaban itu.
Aku hanya bertanya apa bedanya.
Aku hanya tak tahu kenapa harus esok.
Kenapa kau bilang esok semua akan baik-baik saja dan kita bisa menari di atas awan lagi seperti dulu.
Kenapa tak kau bilang lusa atau saat ini saja.

Esok.
Seperti kau selalu meyakinkan padaku.

Esok.
Bahwa hari selalu kau harapkan berganti.
Bahwa hati selalu menanti.
Bahwa ada bagian jiwa yang selalu merasa tersakiti.
Dan bahwa raga selalu tak peduli.
Untuk apa kau tangisi semua ini?

Esok.
Kau berujar lagi.

Satu

Aku benci memori
Aku benci kenangan
Tapi aku tak pernah sekalipun bisa membenci satu kata : kamu

Utuh

Seperti itulah.. aku belajar menjadi utuh meski tampak rapuh.

MERAPIKAN KENANGAN

utuh blog

Kau letih
Aku perih
Kita sama merintih

Kau rindu
Aku beku
Kita sama menunggu

Kau sederhana
Aku biasa
Inikah cinta bersahaja?

View original post 15 more words

Aku sedang

Aku sedang merangkai sebuah memori. Tentang kamu. Tentang aku.
Aku sedang menyulam sebuah kenangan. Tentang kita berdua.
Aku tak pernah tahu sampai sejauh apa pekerjaanku ketika aku membentur pada satu kenyataan pahit tentang ujung dari semua ini.
Aku terlanjur merangkai memori itu dalam berpilin-pilin gulungan film yang tak pernah sekalipun mampu kuurai.
Aku pun terlanjur memiliki kenangan yang terjalin indah di dalam relung hati.
Kemudian aku sadar sakitnya membentur kenangan pahit yang tak mampu kujelaskan dengan bahasaku sendiri. Aku hanya menyebutnya sebagai sakit dan kecewa.
Dan aku melihatmu sebagai luka.
Luka yang menggores dan menyayat dengan seenak hatinya.
Kau tahu aku terlalu bodoh karena menganggap semuanya akan baik-baik saja. Ya.. meski tak pernah sekalipun kau bilang padaku aku bodoh. Nyatanya memang kita berdua yang bodoh.
Dan justru hal terburuk yang kusesali adalah pernah membuatmu ada dalam memori kenangan hidupku.
Meski aku tahu suatu ketika kau berujar akulah yang menyakitimu.. tapi tidak. Tidak tanpa alasan aku melakukannya. Karena aku sedang berupaya menunjukkan sakitku padamu.
Aku sedang menunjukkan padamu betapa aku tak kuasa lagi membendung rasa aneh yang berkecamuk di dalam sana.
Terasa seperti aku sedang tersesat dan aku kebingungan kemana arah jalan keluar.
Terasa seperti beberapa detik sebelumnya aku tengah berenang dalam labirin kebahagiaan namun ternyata aku tersesat di dalamnya sejurus kemudian.
Dan kau.. kau tak pernah sekalipun aku yakin mampu mengerti dengan sepenuhnya apa yang tengah kurasakan.
Aku gundah. Hanya itu yang kau tahu. Aku galau. Hanya itu yang kau tangkap.
Dan sama sekali tak kau pahami sebab kenapa aku merasakannya.
Kau lah penyebab aku tersesat dan kau hanya mampu diam tak bergeming.
Aku muak.

Kejujuran

Pikirku tentangmu adalah sebuah “saling”.
Semoga pikirmupun begitu.

~~Kadang kita menjadi hamba bagi sebuah kepura-puraan—menipu diri dengan rekaan-rekaan yang kita ciptakan sendiri.

MERAPIKAN KENANGAN

Izinkan aku mengenalmu, untuk kesekian kalinya. Aku ingin mendengar nada bicara dan suaramu saat mengenalkan diri: siapa namamu, dari mana kau berasal, apa yang kau suka dan yang tidak. Aku ingin merasakan kembali indahnya dunia ketika waktu seketika berhenti, dan semesta seolah menghentikan semua aktivitas yang ditakdirkan pada mereka hanya untuk mendengarkanmu bicara—aku, tak terkecuali.

Bagaimana sebenarnya kejujuran bekerja dalam cinta? Ketika kita memutuskan untuk saling menjauh justru ketika raga ini mendamba kedekatan. Ketika rindu, seberapa pun pekatnya tetap tak tersampaikan. Begitulah, sejak pertama aku mengenalmu, aku percaya bahwa kejujuran tak pernah benar-benar berlaku dalam cinta. Kadang kita menjadi hamba bagi sebuah kepura-puraan—menipu diri dengan rekaan-rekaan yang kita ciptakan sendiri.

View original post 183 more words

Hentikan saja

Kau berdiri di tengah jembatan keresahan hati. Sementara aku termangu menanti sambil memeluk harap disini.
Kau berujar kau tengah menungguku. Tidak, sejatinya aku yang selalu menunggu. Sudah kukatakan bukan?

Aku berlari menatap ujung jalan yang masih gelap itu. Dan engkau dengan kemeja warna gelap berdiri di ujung sana menyunggingkan senyum yang tak pernah mampu kulihat dengan jelas.
Kau berteriak padaku untuk berlari menujumu. Dan lihatlah kau sedang menungguku.. sementara kau tahu dirimupun masih setengah perjalanan. Lihatlah wahai engkau.. lihatlah ke belakang dan berbaliklah. Kau pun masih harus berlari dengan tujuan yang juga tak kalah melelahkan.

Aku sedang berpikir tentang kita.
Tentang aku dan kau.
Sambil masih terus berjalan dan setengah berlari menujumu.. tidakkah kau sadar? Jangan menungguku. Sekali lagi kukatakan jangan.

Untuk apa berharap pada sebuah ragu? Kau dan aku sama-sama tahu kita berdua sama-sama masih meragu. Lalu, kenapa harus berselimut yakin yang palsu hanya untuk berpura-pura mampu dan kuat di hadapan satu sama lain?

Hentikan saja semua gurauan ini.
Kejam memang.
Hentikan saja. Aku tak pernah tahu seberapa keras usahamu karena sejatinya, lihatlah yang ada hanya aku yang terus menuntutmu. Padahal aku tak pernah tahu kau pun tengah menyusun sebuah siasat untuk masa depanmu. Tapi bodohnya, di mataku semua hanya berarti sebuah keadaan yang tampak sebagai penantianmu padaku.

Hentikan saja semua ragu ini.
Hentikan saja dan mari sama-sama berlari mengikis ragu ini.
Kau pernah bilang kita adalah sepasang rel.
Iya.. aku rel dan kau rel yang tengah dilalui kereta liku kehidupan kita.
Rel yang selalu beriringan namun tak pernah mampu memeluk bersama dengan erat satu sama lain.
Bukan tidak. Tapi belum.

Hentikan saja semua gundah ini. Mungkin gundahku yang paling membuncah. Gundahmu ada namun kau terlalu pandai menyimpannya dalam selaput keyakinan dirimu.

Hentikan saja.. karena aku sudah terlalu lelah bermandikan harap yang terkesan semu.
Aku ingin menjemput apa yang kusebut sebagai masa depan itu tanpa secuilpun remah ragu.
Dan aku tahu, kau pun inginkan begitu.

Feeling killer

Aku butuh pembunuh rasa.
Penghancur kenangan.
Pemusnah rindu.
Aku butuh ia untuk membersihkan selaput selaput memori yang mengotori dinding hatiku.

365 hari memperbaiki diri.

Create a free website or blog at WordPress.com.